Workshop "Pengkajian Ilmu Astronomi yang Tersirat dalam Buku Ayat-ayat Semesta"


Kemajuan negara atau bangsa tergantung pada kemampuan negara tersebut dalam mengembangkan iptek, hal ini disampaikan oleh Agus Purwanto, D.Sc dalam acara workshop berjudul “Pengkajian Ilmu Astronomi yang tersirat dalam Buku Ayat-ayat Semesta” tanggal 2 Mei 2009 di teatrikal PBBA UIN Sunan Kalijaga.


Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk usaha segenap kader IMM Komisariat Saintek UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam mengungkap fenomena alam yang terkandung di dalam Alquran. Acara ini dihadiri sekitar 100 peserta, baik dari UIN maupun dari luar UIN.
Dalam kesempatan tersebut, Agus Purwanto, D.Sc yang merupakan doktor fisika luluan Hiroshima University mengungkapkan, saat ini kebanyakan negara-negara muslim atau negara yang berpenduduk mayoritas muslim rata-rata dalam kondisi tertinggal. Hal ini disebabkan masyarakat muslim yang kurang begitu tertarik dengan pembahasan seputar sains dan teknologi. Hal ini diperparah dengan adanya sebagian tokoh agama Islam yang mengeluarkan pendapat tentang sesuatu yang bukan bidangnya. Disebutkan oleh Agus, ada salah seorang tokoh agama yang cukup populer di Jawa Timur. Ia tidak mempunyai pengetahuan mengenai kosmologi, namun ia mengeluarkan pendapat tentang benda-benda langit dan tentu saja ini malah membingungkan umat dan melecehkan ilmu pengetahuan. Belum lagi ketidakpedulian ulama terhadap ayat-ayat kauniyah yang jumlahnya sangat banyak di dalam Alquran dan mereka lebih suka berdebat tentang masalah fiqih. Alumni IMM ITB ini menjelaskan, kalau Indonesia dan negara Islam lainnya tidak mau tertinggal dengan negara-negara barat, maka penguasaan terhadap sains dan teknologi menjadi kunci utamanya.
Dalam acara workshop ini, Agus Purwanto, D.Sc menjelaskan banyak hal yang berkaitan dengan sistem tata surya. Mulai dari terbentuknya galaksi, peredaran benda langit dalam galaksi bima sakti, misi teleskop hubble, hingga masalah penetapan awal bulan qomariyah yang menjadi permasalahan dikalangan umat Islam. Beberapa slide ditampilkan untuk mendukung pembahasan tersebut. Selain slide, pembicara juga memutar video yang menceritakan sistem tata surya kita dan misi teleskop hubble ke ruang angkasa.

Satu hal yang menarik dari pembahasan panjang di atas adalah penetapan awal bulan qomariyah. Agus Purwanto yang notabene adalah ahli hisab di kalangan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim menjelaskan mengapa dirinya secara pribadi lebih menyetujui metode hisab yang dipakai Muhammadiyah dibandingkan yang lain. Menurutnya, metode yang dipakai Muhammadiyah dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Ciri khas yang dimiliki metode hisab model Muhammadiyah antara lain penggunaan angka nol derajat saat wujudul hilal sebagai batas pergantian hari. Pembicara sempat menyinggung masalah penggunaan batas minimal 2 derajat yang disepakati bersama oleh Pemerintah RI bersama Malaysia dan Brunei Darussalam dalam Mabims. Sampai saat ini asal usul digunakannya angka 2 belum dapat dapat dibuktikan secara ilmiah maupun secara syar’i. Beberapa negara di Timur Tengah dan Amerika menggunakan standar yang berbeda untuk menetapkan kriteria masuk bulan baru, kebanyakan menggunakan batas 4 dan 6 derajat. Padahal secara astronomis bulan baru bisa dilihat dengan mata telanjang setelah ketinggian 9 derajat.
Masalah penetapan awal bulan qomariyah cukup menggelitik perasaan doktor fisika ini. Beliau mengusulkan agar penghitungan bulan qomariyah menggunakan patokan bulan purnama. Munulnya bulan purnama dijadikan acuan untuk menghitung mundur penetapan awal bulan. Metode ini sering dipakai oleh komunitas nelayan di Jepang (di Indonesia sebenarnya juga ada). Menurutnya dalam Al Quran pun telah disebutkan adanya petunjuk untuk menggunakan bulan purnama, yaitu dalam Surat Al Insyiqaaq (84) ayat 18 yang artinya :
“dan dengan bulan apabila jadi purnama,”
Metode hisab model Muhammadiyah pun bukan berarti bebas dari kelemahan. Peredaran bulan yang berubah-ubah membuat posisinya juga berubah ketika menempati waktu yang sama dan tempat yang sama. Untuk kasus Indonesia, garis ketinggian hilal membelah nusantara seperti garis diagonal. Dimana wilayah yang berada di bawah garis diagonal sudah wujud (ketinggian hilal 1 derajat) sedangkan daerah di atas garis masih -1 derajat. Sehingga untuk wilayah Indonesia pun tetap ada peluang perbedaan awal bulan jika menggunakan metode Hisab model Muhammadiyah.
Saat pembahasan masalah ini, ada peserta (mahasiswa Fakultas Saintek UIN) yang bertanya sampai ‘eyel-eyelan’ dengan pembicara, bahkan ia sampai maju ke depan untuk menjelaskan apa yang ia pahami. Ia pun akhirnya mundur ke tempat duduknya setelah diberi penjelasan secara rinci oleh pembicara.
Acara diakhiri dengan pembagian doorprize yang disponsori oleh Penerbit Mizan.(pan)